GAPENSI: Kalau Mau Bangkit, Kita Harus Pakai Produk Dalam Negeri
Bagikan
Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI) sangat prihatin dengan mati surinya beberapa industri konstruksi nasional. Paradoks dengan pembangunan infrastruktur yang dikerjakan secara besar-besaran, ternyata belum mampu membangkitkan industri rantai pasoknya.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Gapensi, Iskandar Z. Hartawi pada acara Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) Badan Pengurus Daerah (BPD) Gapensi Sumut, di Medan, Rabu (18/12/2019).

Iskandar Hartawi menegaskan bahwa masyarakat jasa konstruksi tidak boleh putus asa dan menyerah begitu saja dari serbuan material-material dan peralatan konstruksi dari luar negeri.

"Kami pengurus pusat dan daerah akan road show terus menerus ke seluruh daerah di 34 titik untuk mengkampanyekan agar penggunaan material konstruksi produksi industri nasional dalam setiap proyek yang kami kerjakan menjadi suatu keharusan. Kampanye ini kami khususkan dulu kepada anggota kami yang saat ini berjumlah lebih dari 32 ribu lebih perusahaan," ujarnya.

Dikatakan Iskandar Hartawi, pihaknya juga mengajak industri-industri rantai pasok nasional, baik BUMN maupun swasta nasional dan juga dari Kementerian Pekerjaan Umum serta LPJKN (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional), dalam mengampanyekan hal tersebut.

"Misalkan dalam penyediaan besi beton. Kita semua pasti mengenal istilah besi banci. Dikatakan besi 10 misalnya, tapi kenyataannya setelah diukur hanya 8 mm diameternya. Ini jelas tidak sesuai SNI, belum lagi kualitas kekuatannya," ungkapnya.

Bendahara Umum BPP Gapensi, Ken Pangestu menambahkan, saat ini di pasaran beredar begitu banyak besi-besi yang tidak jelas asal usulnya, dengan kualitas jauh di bawah standard SNI. Selain itu juga banyak ditemukan jenis-jenis besi dari luar negeri yang sebenarnya sudah mampu diproduksi di industri nasional.

"Tentunya kondisi ini sangat memukul industri nasional untuk bisa berkembang dengan baik," ujar Ken.

Dari data asosiasi baja ini, ternyata kurang lebih 50% pemakaian besi nasional saat ini dipenuhi oleh produksi impor, sementara kapasitas rata-rata industri besi nasional terpakai baru sekitar 60 %.

Untuk itu, Gapensi mengajak seluruh pemangku kepentingan dunia kontruksi nasional untuk bekerjasama dan memiliki komitmen kuat agar memakai produksi nasional ber-SNI.

"Industri konstruksi dengan industri rantai pasok. Jadi kita mempertemukan di online dan offline supaya apa yang dibutuhkan teman-teman di industri konstruksi bisa dengan cepat dan mudah disupply oleh industri konstruksi itu sendiri. Jadi tidak ada alasan lagi kita pakai barang impor. Jadi kita harus membangun Indonesia itu dengan produk dalam negeri dan ber-SNI," tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum BPD Gapensi Sumatera Utara, TM Pardede mengatakan, Mukerda BPD Gapensi Sumut dilakukan untuk mengevaluasi program kerja organisasi dan merancang program kerja ke depan.

"Kita juga akan menampung pokok-pokok pikiran anggota untuk program kerja 2020," kata TM Pardede.
berita ini telah tampil di halaman : rmolsumut.id