GAPENSI : IBU KOTA NEGARA BARU HARUS DIBENTUK SATU BADAN OTORITA KHUSUS DAN JADIKAN IKN SEBAGAI MOMENTUM KEBANGKITAN INDUSTRI KONSTRUKSI NASIONAL
Bagikan
Hari ini (Kamis/12 Dec 19) GAPENSI kembali diminta untuk memberikan masukan pemikiran di dalam rencana pembangunan Ibu Kota Baru (IKN) di Kalimantan Timur, terkhusus tentang kesiapan pelaksana jasa konstruksi nasional guna mendukung pembangunan IKN. Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, Kementerian PUPera di Kota Balikpapan. Fokus Group Discussion (FGD) ini bertujuan untuk melakukan identifikasi potensi rantai pasok sumber daya konstruksi di Kalimantan Timur.

Dalam FGD ini GAPENSI secara lengkap memberikan beberapa point masukan agar bisa dilakukan langkah-langkah lebih baik, antara lain:

1. Diusulkan terbentuknya hanya satu badan otorita khusus pengelolaan pembangunan IKN, saat ini masyarakat agak bingung karena proses sosialisasi dilakukan oleh beberapa kementrian, yang terkadang sering saling tumpang tindih.

2. Rantai pasok harus disiapkan dulu dari hulu ke hilir, dengan tujuan penguatan industri nasional yang berkelanjutan.

3. Pembangunan di rencanakan secara komprehensif dan holistik, tidak hanya berorientasi pada hasil tapi juga berorientasi pada proses sebagai sarana membangun kapasitas bangsa.

4. Melibatkan secara maksimal seluruh potensi dalam negeri baik itu material, peralatan, teknologi dan sumber daya manusia.

5. Rekomendasi engineering/metode : secara umum, wilayah Kalimantan Timur merupakan tanah khusus misal : berbukit-bukit, lahan gambut, clay shale, pelapisan batu bara muda. Perlu studi intensif dari ahli sebelum melakukan perencanaan tapak : agar bisa diantisipasi baik secara teknologi, biaya dan lain-lain.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal BPP GAPENSI, Dandung S. Harninto di depan peserta diskusi tersebut menegaskan bahwa : jika nanti pembangunan IKN benar-benar dilaksanakan, maka rakyat Kaltim harus benar-benar terlibat, baik itu sebagai tenaga ahli, tenaga trampil bahkan harus aktif terlibat di dalam rantai pasok konstruksinya. Untuk itu tenaga-tenaga kerja di Kaltim harus benar-benar disiapkan sejak awal, dengan berpakai program peningkatan kapasitas SDM secama massif dengan memperkuat link and match antara perguruan tingggi dan pelaku industri konstruksi.

Sementara itu Yolanda, Kepala sub-direktorat Peralatan dan Material Konstruksi PUPera memberikan gambaran supply dan demand rantai pasok konstruksi, dimana dengan adanya IKN ini Kalimantan akan sangat memerlukan sangat banyak sumber daya manusia, peralatan dan material konstruksi, dan mendorong agar kesempatan ini bisa digunakan oleh pengusaha-pengusaha Kalimantan Timur untuk bisa menangkap peluang bisnisnya.

Sedangkan dari ISSC (Indonesia Society of Steel Construction), Singgih Wasesa lebih mendorong agar proyek IKN ini bisa menjadi moment kebangkitan industri nasional khususnya industri besi-baja dengan penggunaan produksi sesuai standard SNI. Karena semakin hari industri ini semakin berat kondisinya akibat serbuan barang-barang yang diproduksi tidak sesuai standard dan banjirnya import besi-baja import dengan harga sangat murah. “Proyek IKN ini harus menggunakan produksi yang ber-SNI, agar industri konstruksi kita hidup kembali”, tegas Singgih.
berita ini telah tampil di halaman : Gapensi