Industri Konstruksi Nasional Mati Suri, Gapensi: Kalau Mau Bangkit, Kita Harus Pakai Produk Negeri Sendiri
Bagikan
KAREBANUSA.COM, MAKASSAR - GAPENSI (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional) mengaku sangat prihatin dengan mati suri-nya beberapa industri konstruksi nasional, paradok dengan pembangunan infrastruktur yang selama ini dikerjakan besar-besaran yang ternyata belum mampu membangkitkan industri rantai pasok-nya.

Hak tersebut disampaikan oleh Ketua Umum BPP Gapensi lskandar Z Hartawi saat ditemui di tengah-tengah acara road show Gapensi Goes To Campus di Politeknik Ujung Pandang, Makasar, Senin (2/12/2019).

”Tapi kita tidak boleh putus asa, tidak boleh menyerah begitu saja dari serbuan material-material dan peralatan konstruksi dari luar," tegasnya.

Gapensi sebagai asosiasi jasa konstruksi nasional terbesar dan tertua di Indonesia bahkan di Asean memiliki jaringan pengurus daerah di 34 propinsi dan pengurus cabang di Iebih dari 512 kabupaten, mempunyai komitmen kuat untuk ikut mendukung untuk kebangkitan industri konstruksi nasional.

”Kami pengurus pusat dan daerah akan road show terus menerus ke seluruh daerah di 34 titik untuk mengkampanyekan secara masif agar penggunaan materiaI-material konstruksi produksi industri nasional dalam proyek-proyek yang kami kerjakan menjadi suatu keharusan, kampanye ini kami khususkan dulu kepada anggota kami yang saat ini berjumlah lebih dari 32 ribu lebih perusahaan," ujarnya.

Jadi hampir tiap minggu kami harus berpindah-pindah dari BPD satu ke BPD Iainnya, dengan mengajak industri-industri rantai pasok industri nasional baik BUMN maupun swasta nasional dan juga dari Kementerian Pekerjaan Umum dan LKPJ (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional), ujar Iskandar dengan penuh rasa optimis.

Informasi di lapangan dari banyak anggota Gapensi, selalu saja harga termurah yang menjadi pertimbangan dalam penentuan pemenang tender-tender di proyek-proyek pemerintah. Ingin semurah-murahnya, inilah yang selalu menjadi masalah di dalam mendapatkan kualitas konstruksi yang baik. Misalkan dalam penyediaan besi beton; kita semua pasti mengenal istilah besi banci, dikatakan besi 10 misalnya, tapi kenyataannya setelah diukur hanya 8 mm diametemya.

"Ini pastilah menjadi tantangan berat kita, tapi kebangkitan industri konstruksi nasional adalah tanggung jawab kita bersama sebagai anak bangsa”. Untuk itu GAPENSI mengajak seluruh pemangku kepentingan dunia kontruksi nasional untuk bekerja bersama dan punya komitmen kuat. ”Kalau bukan kita-kita sendiri yang memulai memakai produksi nasional ber-SNI, siapa Iagi ?” tekan lskandar.

Jika kita kompak, rasanya sangat mudah bagi industri konstruksi nasional kita menjadi kuat dan setidak-tidaknya bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan bisa juga makin berkembang kuat dengan melakukan export produksinya.

Pemerintah sebagai regulator juga dituntut punya komitmen dan usaha keras untuk membangun industri konstruksi nasional, sebagai contoh : sejak saat perencanaan, maka semua material dan peralatan konstruksi seharusnya diwajibkan menggunakan produksi nasional ber-SNI, terlebih-lebih jika proyek tersebut bersumber dari dana APBN atau APBD, karena itu dari uang pajak kita-kita sendiri.

Demikian juga proyek-proyek investasi baik investor nasional maupun investor asing, saat proses perijinan, pemerintah juga harus berani mewajibkan mereka mengutamakan penggunakan produk-produk material dan pera|atan konstruksi dalam negeri.

“Melalui acara road show di 34 propinsi ini, GAPENSI ingin bisa menjadi salah satu penggerak dan influencer untuk seluruh pelaku industri kontruksi untuk terus meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri. Kami ingin mengajak seluruh pemangku kepenting, ini adalah kerja keras bersama, ini adalah untuk kepentingan kemajuan bangsa Indonesia,” tegas lskandar.

Nanang - Senin, 2 Desember 2019 18:56 WITA
berita ini telah tampil di halaman : karebanusa.com